Pemikiran Ekonomi Syafruddin Prawiranegara
A. Latar Belakang
Masalah ekonomi merupakan masalah yang penting dalam kelangsungan hidup manusia. Manusia ditakdirkan hidup selalu berdampingan dengan masalah ekonomi. Hal ini dikarenakan manusia selalu memenuhi kebutuhan hidupnya dengan menggunakan takaran (timbangan) ekonomi. Contoh konkitnya yaitu bahwa kebutuhan hidup manusia itu yaitu masalah sandang pangan dan papan harus dipenuhi dengan ekonomi (baca: uang).
Di samping masalah ekonomi, kehidupan manusia juga tidak terlepaskan oleh masalah moral (norma) maupun masalah agama dalam kesehariannya., bahkan aspek ini mempunyai arti yang sangat penting dalam kehidupan individu dalam kehidupan sosialnya. Bila hubungan antara agama, moral dan ilmu ekonomi berjalan dengan seiringan maka akan tercipta tatanan kehidupan yang adil merata dan makmur. Mengapa demikian? pertanyaan ini sungguh menggelitik karena apa urgensinya bagi kehidupan sosialnya. Nah untuk menjawab pertanyaan tersebut ada baiknya kita lihat pemikiran Safruddin Prawiranegara.
Mengapa penulis tertarik dalam penulisan mengenai konsep pemikiran yang pernah digagas oleh Syafruddin Prawiranegara ini, hal ini disebabkan karena Syafruddin Prawiranegara ini merupakan salah satu peletak dasar system perekonomian yang dijalankan oleh bangsa kita. Hal ini disebabkan karena beliau pernah menduduki posisi yang penting dalam pengambil kebijakan khususnya di bidang ekonomi, yaitu pernah sebagai Menteri Keuangan, Menteri Kemakmuran dan Posisi strategis yang lain.

Disamping itu kajian mengenai sejarah pemikiran khususnya mengenai pemikiran ekonomi masih sangat jarang kita jumpai, hal ini juga menjadi motivasi penulis untuk lebih memfokuskan pada bidang ini. Mengenai tulisan atau buku yang pernah membahas pemikiran Safruddin Prawiranegara ini khususnya di bidang ekonominya menurut hemat penulis belum pernah ada. Mungkin yang ada atau yang membahas mengenai pemikirannya yaitu pernah ditulis oleh penulis kenamaan Indonesia yaitu saudara Ajip Rosidi yang menulis Biografinya yaitu yang berjudul “Safruddin Prawiranegara Lebih Takut Kepada Allah SWT”, namun fokus yang dipaparkan oleh saudara Ajip Rosidi berkisah tentang masa perjalan kehidupan dari Sang tokoh tersebut. Sedangkan mengenai pemikiranya yaitu di bidang politik, agama, ekonomi dan lainya hanya disinggung sedikit.
Ada hubungan yang erat antara soal ekonomi dengan moral dan agama yang menjadi sumbernya. Sering hubungan ini kita lupakan, karena memangilmu ekonomi itu dengan sengaja mengesampingkan hubungan itu. Ilmu ekonomi hanya ingin berurusan dengan aspek manusia-didalam masyarakat yang berhubungan dengan pencaharian barang-barang keperluan hidup manusia itu. Aspek- aspek lainnya seperti aspek hukum, moral dan agama tidak diperdulikannya. Bahwa dengan cara isoleer- methode, (aspek isolasi) yang demikian itu ilmu ekonomi danhomo economicus yang menjelma sebagai hasil cara berfikir demikian hanya mempunyai dan derajat kebenaran (waarheidsgehalte ) yang relative, hal ini sering dilupakan.[1]
Kalimat di atas merupakan kalimat yang diucapkan oleh safruddin Prawiranegara dalam salah upaya untuk memberikan salah satu pandangannya mengenai konsep economic ideal yaitu mengusahakan tercapainya kemakmuran yang lebih tinggi dan merata dalam masyarakat dengan menggunakan rasio (akal sehat) dan membuat perencanaan dan organisasi yang teratur.
Pembangunan dan pembersihan jiwa harus didahulukan, sebelum kita dapat membangun masyarakat yang adil dan makmur. Pembangunan dan pembersihan jiwa ini resepnya dapat diberikan oleh agama[2]. Dengan ini dapat diketahui bahwa konsep yang digagas oleh Safruddin Prawiranegara dalam bidang ekonomi dan moneter harus diselaraskan dengan prinsip- prinsip moral dan agama. Jadi ada hubungan interdepedensi antara konsep ekonomi dengan agama.[3]
Tetapi justru hubungan itulah yang tidak boleh sekali- kali kita lupakan, jikalau kita hendak mendirikan masyarakat yang sungguh- sungguh adil dan makmur. Istilah “adil”itu bukanlah istilah ilmu ekonomi, melainkan istilah moral, istilah agama. Ilmu ekonomi tidak memperdulikan keadilan, melainkan hanya memperhatikan rendement yang sebesar – besarnya dengan tenaga yag sekecl- kecilnya. Dan kalau istilah keadilan itu dipakai dalam ilmu ekonomi, maka pengertiannya itu mempunyai arti kuantitatif. Keadilan bagi kaum materialis[4], bagi ilmu ekonomi yang terjadi sebagai hasil pembagian menurut asas kuantitatif : sama rata sama rasa. Kualitas dan individualitas seseorang, yang sebenarnya harus diperhatikan, apabila keadilan sungguh – sungguh hendak dilaksanakan, tidak ada tempatnya dalam pandangan kaum materialis[5]
Menurut Syafruddin, baik kapitalisme maupun komunisme sebenarnya bersumber dari agama Kristen dan Yahudi. Kapitalisme yang sangat dibenci oleh komunisme itu, timbul sebagai reaksi atas susunan kapitalisme-lama yang berbentuk system gilda dan Merkantilisme yang memberi monopoli kepada beberapa orang dari berbagai golongan yang tidak dipergunakan untuk kepentingan masyarakat, melainkan untuk kepentingan sendiri saja. Semangat liberalisme yang melahirkan kapitalisme itu didorong oleh perasaan keadilan social sebagai pembaharuan semangat Kristen itu memandang manusia sebagai individu sangat mulia.[6]
Dalam batas- batas tertentu saya tidak melihat alasan kenapa islam tidak selaras dengan system ekonomi yang berkembang menurut garis kapitalisme. Islam memiliki konsep tentang riba. Saya tidak setuju dengan orang – orang yang menafsirkan riba dengan bunga. Menurut pandangan saya, riba berarti keuntungan yang diperoleh dengan cara – cara tak berperilakukemanusiaan. Dengan menipu dan menindasrakyat – itulah riba – itu yang dilarang dalam islam. Juga berjudi – yang erarti menjadi kaya tanpa melakukan sesuatu, dan sekaligus membuat orang lain miskin. Ini juga dilarang[7]
Kapitalisme selaras benar dengan islam, tetapi ada batas- batasnya . kita hanya boleh memperoleh keuntungan dengan cara – cara yang tulus, dan perdagangan hanya boleh berlangsung dengan persetujuan bersama yang bersifat sukarela hingga kedua belah pihak merasa bahwa keuntungan diperoleh lewat persetujuan. Pikiran bahwa orang boleh memperoleh keuntungan dengan menipu atau menindas orang lain itu dibenci oleh islam. Koperasi itu ada aturannya dalam islam[8]
Kita tidak seharusnya memiliki satu ideologi saja – kapitalisme atau komunisme. Ajaran kapitalisme maupun komunisme harus diterapkan sesuai keadaan, untuk kepentingan rakyat, bukan secara dogmatis.[9]dalam pernyataan ini tersirat bahwa konsep ekonomi yang sangat popular waktu itu yaitu konsep dari komunisme maupun liberalisme dapat digunakan sesuai dengan keadaan. Jadi tidaklah salah bahwa kita juga sebenarnya bisa mengambil sisi baik dari keduanya. Namun kita juga jangan lupa bahwa kita juga harus sangat berhati- hati dalam menyikapi permasalahan ini.
Safruddin juga melihat bahwa islam sebagai jalan tengah diantara kapitalisme dengan sosialisme-komunisme. Dalam islam terdapat beberapa persaman dengan kapitalisme, dan dengan komunisme, tetapi tidak dengan ekses – eksesnya. Misalnya islam tetap menghargai individu seperti kapitalisme, tetapi bukannya tanpa batas. Dalam komunisme, individu tidak diindahkan sama sekali. Disamping itu, kapitalisme yang berdasarkan kepada liberalisme telah menyebabkan ketimpangan social yang lalu ditambal dengan peraturan – peraturan kesejahteraan sosial. Sebagai reaksi atas kepincangan social itu, komunisme membagi masyarakat dalam kelas- kelas : proletar harus menghancurkan kelas kapitalis dengan penuh kebencian. Dalam mengatur keadilan social, islam berpegang kepada aturan zakat yang memberikan kewajiban kepada si kaya dengan tidak menimbulkan kebencian dari pihak si miskin[10].
Menurut islam perbedaan antara mampu dengan tidak mampu itu bersifat relative, tidak mutlak : seseorang yang hari ini mampu mungkin besok tidak lagi, dan mereka yang hari ini tidak mampu mungkin besok menjadi mampu. Karena itu islam membuat ketentuan – ketentuan berupa kewajiban membayar zakat dan lain- lain itu secara objektif, berlaku buat setiap muslim. Islam tidak menganjurkan perjuangan kelas sebagai senjata untuk membentuk masyarakat yang bahagia, karena islam tidak mengukur kebahagiaan menurut kebendaan, melainkan pada dijalankan atau tidaknya segala kewajiban yang dipikulkan kepada setiap orang islam oleh agamanya. Kebahagiaan adalah soal perasaan, karena itu mungkin saja seorang miskin merasa lebih berbahagia dari saudaranya yang kaya.[11]
Ketika rezim orde baru memulai proposisi bahwa Indonesia harus mengembangkan ekonomi dahulu, saya katakana kepada mereka bahwa itu keliru. Saya berpendapat bahwa kita harus memulai dengan pembangunan manusia.[12] Ekonomi harus berkembang sesuai kebutuhan masyarakat, jadi ketika kita mencapai kemerdekaan , gagasan saya adalah bahwa kita pertama- tama harus memperbaiki pertanian, dan industri harus didasarkan pada pertanian[13]
B. Batasan Masalah
Penulisan pada proposal ini yang bertemakan mengenai konsep ekonomi yang pernah digagas oleh Syafruddin Prawiranegara dengan objek kajian menenai sejarah pemikiran khususnya ekonomi ini dibatasi mengenai pendapat dan tulisan yang pernah ditulis oleh Syafruddin Prawiranegara baik melalui buku maupun di majalah, Koran dan media massa lainnya hanya yang bertemakan masalah perekonomian saja.
C. Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang diatas, penulis dapat mengambil rumusan masalah yang menjadi pokok kajian dari karya tulis yang akan dibuat. Pokok kajian tersebut dipandu dengan pertanyaan pertanyaan sebagai berikut :
Bagaimanakah peranan Syafruddin Prawiranegara dalam sumbangsih terhadap pemikirannya khususnya dibidang ekonomi khususnya di Indonesia ?
Bagaimanakah konsep ekonomi yang dilontarkan oleh Syafruddin Prawiranegara ?
Bagaimanakah korelasi pemikiran Safruddin Prawiranegara dengan pemikiran ekonomi di Indonesia ?
D. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas , maka tujuan penelitian ini adalah :
Untuk mengetahui peranan Syafruddin Prawiranegara dalam sumbangsih terhadap pemikirannya khususnya dibidang ekonomi khususnya di Indonesia,
Untuk mengetahui konsep pemikiran Safruddin Prawiranegara masih relevan digunakan dalam memajukan ekonomi di Indonesia.
Untuk mengetahui Bagaimanakah korelasi pemikiran Safruddin Prawiranegara dengan pemikiran ekonomi di Indonesia,
E. Manfaat Penulisan
Dari hasil penelitian ini diharapkan mampu :
Memperkaya khasanah keilmuan sejarah, khususnya Sejarah Pemikiran dan Sejarah Perekonomian,
Memberikan kontribusi pada pengembangan kajian Sejarah Pemikiran dan Sejarah Perekonomian,
Sebagai bahan referensi bagi generasi muda dalam membuat karya ilmiah tentang Sejarah Pemikiran dan Sejarah Perekonomian di Indonesia.
F. Metode Penelitian
Penelitian yang penulis lakukan yaitu yang berjudul “Konsep Pemikiran Ekonomi Safruddin Prawiranegara”, menggunakan metode penelitian dengan empat langkah[14] yaitu Heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Penjelasan sebagai berikut:
Heuristik tahap awal penelitian sejarah yaitu berupa pengumpulan sumber-sumber. Sumber yang didapat berupa sumber tulisan yang didapat dari berbagai tempat. Dari perpustakaan Nasional ( Jakarta ) diantaranya yaitu dari sumber majalah dan Koran seperti dari majalah Budaja Djaja yang kesemuanya itu merupakan tulisan dan pemikiran dari Safruddin Prawiranegara, yaitu “Penanaman Uang dan Bank bagi Pembangunan Dan Perkembangan Ekonomi”edisi September 1969, “Beberapa Problema jang Bertalian Denga Pelaksanaan Repelita” edisi 1Juni 1969, “KENOP – 15 Kemana kita Bawa” edisi 3 Januari 1979, “Pembinaan achlak Sebagai Sjarat Buat Pembangunan Ekonomi” edisi 26 Mei 1971, “Peranan Idiologi Dalam Pembangunan Ekonomi dan Stabilitas Politik” edisi Juni 1969, “Beberapa Problema Yang Bertalian Dengan Pelaksanaan Repelita” edisi 1 September 1969, Majalah Hikmah yaitu “Membangun Setjara Islam” edisi 14 Nopember 1953, Koran Suara Masyumi “ Ekonomi Dalam Islam” edisi 10 Juni 1956, kemudian tulisan – tulisan beliau yang termuat dalam bentuk buku yaitu “Kumpulan Karangan Terpilih Jilid I, Islam Sebagai Pedoman Hidup”.1986, Jakarta:Inti Idayu, “Al- Aqabah, Pendakian Yang Tinggi ( Beberapa pikiran Tentang Pembangunan)”, 1971,Jakarta:Bulan Bintang, “Tindjauan Singkat tentang Uang dan bank Sentral”, 1957.Jakarta:Gunung Agung. Perpustakan LIPI ( Jakarta ) penulis Menemukan yaitu Bintang Pamungkas.1988 .Menyusun Kembali Politik PerekonomianIndonesia, dalam seminar sehari perekonomian Indonesia .jakarta : LIPI, Kumpulan Makalah “Seminar Nasional sejarah Ekonomi dalam Perspektif Sejarah HMS ( Himpunan Mahasiswa Sejarah ) FS UNPAD.Jakarta : LIPI, Soemitro Djoyohadikusumo.1991.Perkembangan Pemikiran Ekonomi.Jakarta:Yayasan Obor, Majalah MATAN, edisi Desember 2008
Kritik, pada langkah selanjutnya adalah kritik sumber suatu metode untuk menilai sumber. Sumber primer merupakan sumber yang nilai keotentikannya dan kredibilitasnya sangat tinggi, sedangkan menurut hemat penulis, tulisan yang di tulis oleh Safruddin Prawiranegara baik dalam bentuk buku atau tulisan yang dimuat disurat kabar maupun majalah yang berisikan atau membahas masalah perekonomian merupakan sumber primer yang bisa dijadikan oleh penulis dalam penyusunan suatu penulisan. Sedangkan , Sumber sekunder : Ajip Rosidi.1986. Safruddin Prawiranegara Lebih Takut Kepada Allah SWT. Jakarta : Inti Idayu, Sri Bintang Pamungkas.1988 .Menyusun Kembali Politik PerekonomianIndonesia, dalam seminar sehari perekonomian Indonesia .jakarta : LIPI, Kumpulan Makalah “Seminar Nasional sejarah Ekonomi dalam Perspektif Sejarah HMS ( Himpunan Mahasiswa Sejarah ) FS UNPAD.Jakarta : LIPI, Soemitro Djoyohadikusumo.1991.Perkembangan Pemikiran Ekonomi.Jakarta:Yayasan Obor, Ricklef. 2005. Sejarah Indonesia Modern 1200-2004. Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, Gunawan Sumodiningrat.2005. MembangunIndonesia Emas.Jakarta:Elex Media Komputindo.Deliar Noer.1990.Mohammad Hatta, Biografi Politik.Jakarta : LP3ES
Interpretasi merupakan langkah setelah mengkritik sumber yaitu mengkategorisasikan sumber sesuai dengan isi. yaitu “Penanaman Uang dan Bank bagi Pembangunan Dan Perkembangan Ekonomi”edisi September 1969 dan , “Tindjauan Singkat tentang Uang dan bank Sentral”,, berisi tentang fungsi dari uang dan peranannya dalam pembangunan khususnya di kedudukan uang terhadap hasil dari produksi suatu produk, kemudian juga berisi tentang sebab inflasi di Inonesia, dan juga fungsi dari bank, baik dari bank sentral maupun bank umum. “Membangun Setjara Islam” edisi 14 Nopember 1953, Koran Suara Masyumi “ Ekonomi Dalam Islam” edisi 10 Juni 1956, berisi tentang konsep menenai perekonomian berdasarkan prinsip islam. “Pembinaan achlak Sebagai Sjarat Buat Pembangunan Ekonomi” edisi 26 Mei 1971, “Peranan Idiologi Dalam Pembangunan Ekonomi dan Stabilitas Politik” edisi Juni 1969, berisi tentang peranan idiologi ataupun moral sebagai modal awal dalam pelaksanan pembangunan. “Kumpulan Karangan Terpilih Jilid I, Islam Sebagai Pedoman Hidup”.1986, Jakarta:Inti Idayu, “Al- Aqabah, Pendakian Yang Tinggi ( Beberapa pikiran Tentang Pembangunan)”, 1971,Jakarta:Bulan Bintang berisi tentang konsep pembangunan ekonomi berdasrkan paham- paham yng sedang bergejolak.
Historiografi—langkah terakhir yaitu melakukan penulisan sejarah. Dalam penulisan sejarah, aspek kronologi sangat penting. [15] maka dari itu dalam penulisan sejarah yang bertema panti asuhan masa kolonial Belanda membahas tentang J.W.I di Surabaya dalam kurun waktu 1933-1939.
G. Sistematika Penulisan
Bab I Pendahuluan terdiri dari; latar belakang masalah, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, kajian pustaka, metode penelitian.
BabII Peranan Syafruddin Prawiranegara dalam sumbangsih terhadap pemikirannya khususnya dibidang ekonomi khususnya di Indonesia terdiri dari ; Biografi singkat Safruddin Prawiranegara, peranan Safruddin Prawiranegara di Pemerintahan
Bab III Konsep ekonomi Syafruddin Prawiranegara terdiri dari ; Konsep ekonomi berdasarkan sosialisme komunisme, konsep ekonomi berdasarkan kapitalisme liberal, konsep ekonomi islam
Bab IV korelasi pemikiran Safruddin Prawiranegara dengan pemikiran ekonomi di Indonesia terdiri dari ; kondisi ekonomi Indonesia saat ini,
Bab V Kesimpulan
Metode Sejarah
Seperti halnya ilmu- ilmu lain sejarah juga di tuntut memiliki seperangkat aturan dan prosedur kerja yang disebut metode, yaitu metode sejarah. Dalam sistem keilmuan, metode sejarah merupakan seperangkat prosedur, alat atau piranti yang digunakan ( sejarawan ) dalam tugas meneliti dan menyusun sejarah[16]. Sedikitnya ada dua pendapat tentang pengertian metode sejarah :
1. Pertama , gilbert J. Garraghan menyatakan bahwa yang di maksud metode sejarah ialah sekumpulan prinsip dan aturan yang sistematis, dimaksudkan untuk memberikan bantuan secara efektif dalam pengumpulan sumber, penilaian secara kritis terhadapnya, kemudian menyajikan sebagai sistesis, biasanya dalam bentuk tertulis. Jadi garraghan menganggap metode sejarah sebagai seperangkat prinsip dan aturan yang harus di patuhi oleh sejarawan.
2. kedua, sejarawan lainnya Louis gottschalk berpendapat bahwa metode sejarah sebagai suatu proses, proses pengujian dan analisis sumber atau laporan dari masa lampau secara kritis. Hasil rekontruksi imajinatif masa lampau berdasarkan data atau fakta yang diperoleh lewat proses itu di sebut Historiografi ( penulisan sejarah )[17]
dari pengertian ditas dapat kita tarik kesimpulan bahwa seperti halnya ilmu lain sejarah juga mempunyai metode tersendiri dalam menulis atau menyusun suatu kejadian atau peristiwa sejarah yaitu berdasarkan proseduratau tahapan tertentu.
Tahapan Metode Sejarah [18]
a. Heuristik, yaitu proses mencari dan menemukan sumber- sumber yang diperlukan.Berdasarkan prosedur kerja seperti yang telah dikemukakan tentang metode sejarah , dalam menggunakan sumber yang dilakukan oleh sejarawan ; pertama harus menentukan tema atau pokok persoalan tertentu yang akan dikerjakan, baru kemudian sejarawan melakukan pencarian ataupun pemilihan sumber yang dianggap relevan yaitu heuristik . dari sumber- sumber itulah sejarawan akan mendapatkan data atau keterangan tentang masa lampau dalam kerangka disiplin sejarah jadi objek kajian sejarawan adalah data- data sejarah yang terekam oleh sumber sejarah. Karena itu sumber sejarah disebut pula sejarah serba objek. Pengabdian sejarah serba objek terdapat dalam sumber sejarah, meskipun tidak sempurnya.
Dasar penggunaan sumber sejarah adalah keinginan untuk mencari kebenaran suatu peristiwa yang telah terjadi. Menurut bentuk dan wujudnya sumber sejarah dapat dibedakan menjadi tiga macam: pertama, sumber berupa benda visual. Sumber visual merupakan Obyek sejarah yang berasal dari aktivitas dan kreativitas kehidupan zaman lampau tidak jarang peninggalan itu ada yang masih berfungsi samapai sekarang, misalnya candi- candi peninggalan kerajaan Hindu- Budha, masjid, pemanndian, Istana dan lain sebagainya. Kedua, sumber warisan atau berita lesan. Pada sumber ini tidak asing bagi masyarakat karena sumber lisan ini disampaikan atau diceritakan dari mulut ke mulut berupa cerita rakyat dalam bentuk prosa ataupun puisi.yang biasanya telah bercampur atau berisi mitos dan legenda[19]. Dalam bentuknya mitos dan legenda sukar sekali memisahkan antara fakta maupun khayalan. Sumber lisan lainnya yaitu berasal dari orang yang terlibat atau pelaku sejarah, mereka yang secara langsung sebagai saksi mata merupakan sumber sejarah yang sangat penting. Karena mereka sebagai pelaku dan saksi utama dari peristiwa sejarah, maka objektivitasnya dapat dipercaya. Ketiga, Sumber Tulisan berdasarkan sumber sejarah tertulis yang dimiliki tiap – tiap bangsa memiliki kehidupan masa lalu yang terdiri dari dua kurun waktu , yaitu zaman prasejarah dan zaman sejarah. Sumber tertulis dapat berupa kitab- kitab kuno, seperti negara kertagama maupun pararaton, dokumen atau arsib, catatan pribadi dan lain sebagainya.
Dalam prosedur ini sejarawan harus berusaha mendapatkan sumber yang memiliki kredibilitas tinggi seperti sumber yang otentik.sedangkan langkah- langkah heuristik yaitu[20] :
1. menentukan topik yang akan dijadikan fokus penulisan
2. inventarisasi sumber yang di perlukan
3. mencari dan mengumpulkan sumber yang relevan dari berbagai lokasi
4. klasifikasi sumbar yang telah diperoleh
b. Kritik, merupakan suatu metode untuk menilai sumber yang dibutuhkan dalam penulisan sejarah. Berdasarkan klasifikasi bentuknya sumber sejarah dibedakan atas sumber visual, lisan, dan tulisan maka kritik sejarah ditujukan kepada sumber tulisan. Dalam pelaksanannya kritik sejarah dapat dibedakan menjadi dua yaitu kritik ekstern dan kritik intern. Dalam pelasanaan kritik ektern lebih menitik beratkan terhadap originalisitas bahan yang dipakai membuat dokumen, sedangkan kritik intern lebih mempertimbangkan kebenaran isi sumber dokumen.[21]
c. Interpretasi atau penafsiran, bahwa interpretasi merupakan salah satu langkah paling esensial dalam metode sejarah. Interpretasi terletak pada perbatasan kritik atau analisa sumber dan penyajian sejarah sebagai cerita. Tanpa penafsiran, penjelasan fakta- fakta masa silam hanya menjadi kronik annual, atau catatan peristiwa. Interfretasi adalah menafsirkan fakata sejarah dan merangkai fakta tersebut hingga menjadi satu kesatuan yang harmonis dan masuk akal. Dari berbagi fakta yang ada kemudian perlu disusun agar mempunyai bentuk dan struktur. Fakta yang ada ditafsirkan sehingga ditemukan struktur logisnya berdasarkan fakta yang ada, untuk menghindari suatu penafsiran yang semena-mena akibat pemikiran yang sempit. Bagi sejarawan akademis, interfretasi yang bersifat deskriptif sajabelum cukup[22]
d.. Historiografi (Penulisan Sejarah)
Historiogray adalah Proses penyusunan fakta-fakta sejarah dan berbagai sumber yang telah diseleksi dalam sebuah bentuk penulisan sejarah. Setelah melakukan penafsiran terhadap data-data yang ada, sejarawan harus sadar bahwa tulisan itu bukan hanya sekedar untuk kepentingan dirinya, tetapi juga untuk dibaca orang lain. Oleh karena itu perlu dipertimbangkan struktur dan gaya bahasa penulisan nya.
Sumber Koran dan Majalah :
Majalah Budaja Djaja, “Penanaman Uang dan Bank bagi Pembangunan Dan Perkembangan Ekonomi”edisi September 1969,
“Beberapa Problema jang Bertalian Denga Pelaksanaan Repelita” edisi 1 Juni 1969,
“KENOP – 15 Kemana kita Bawa” edisi 3 Januari 1979,
“Pembinaan achlak Sebagai Sjarat Buat Pembangunan Ekonomi” edisi 26 Mei 1971,
“Peranan Idiologi Dalam Pembangunan Ekonomi dan Stabilitas Politik” edisi Juni 1969,
“Beberapa Problema Yang Bertalian Dengan Pelaksanaan Repelita” edisi 1 September 1969,
Majalah Hikmah yaitu “Membangun Setjara Islam” edisi 14 Nopember 1953, Koran Suara Masyumi “ Ekonomi Dalam Islam” edisi 10 Juni 1956
Buku :
Prawiranegara, Syafruddin.1986.“Kumpulan Karangan Terpilih Jilid I, Islam Sebagai Pedoman Hidup”., Jakarta:Inti Idayu,
———.1971.“Al- Aqabah, Pendakian Yang Tinggi ( Beberapa pikiran Tentang Pembangunan)”. Jakarta:Bulan Bintang,
———1957.“Tindjauan Singkat tentang Uang dan bank Sentral”..Jakarta:Gunung Agung
Bintang Pamungkas.1988 .Menyusun Kembali Politik PerekonomianIndonesia, dalam seminar sehari perekonomian Indonesia .jakarta : LIPI,
Kumpulan Makalah “Seminar Nasional sejarah Ekonomi dalam Perspektif Sejarah HMS ( Himpunan Mahasiswa Sejarah ) FS UNPAD. Jakarta : LIPI, Soemitro,Djoyohadikusumo.1991. Perkembangan Pemikiran Ekonomi.Jakarta:Yayasan Obor
Djoenet, Marwati,dkk.1987. Sejarah Nasional Indonesia jilid VI. Jakarta : Balai pustaka
Kasdi, Aminuddin.2005. Memahami Sejarah. Surabaya : Unesa Univ.press
Rosidi, Ajip. 1986. Safruddin Prawiranegara Lebih Takut Kepada Allah SWT. Jakarta : Idayu
Thee Kian Wie (ed ).2005. Pelaku Berkisah Ekonomi Indonesia 1950-an sampai 1990-an. Jakarta : Kompas.
====================================================================
[1] Rosidi, Ajip. 1986. Safruddin Prawiranegara Lebih Takut Kepada Allah SWT. Jakarta : Idayu, hal 194
[2] ibid
[3] Mr. Safruddin Prawiranegara merupakan lulusan Sekolah Tinggi Hukum (Rechtshogeschool) di Jakarta. Walaupun secara akademik studinya di bidang hukum, Mr. Safruddin Prawiranegara ini merupakan salah satu pakar (ahli) ekonomi khususnya di bagian moneter yang pernah dimiliki oleh warga Indonesia dan bisa dikatakan sejajar dengan Begawan ekonomi Indonesia yaitu prof. Sumitro Joyohadikusumo ( Ayahnya Prabowo Subianto )
[4] Kaum Meterialis merupakan golongan manusia yang berfikiran bahwa material ( baca : benda ) atau materi mempunyai peranan yang penting dalam kehidupan umat manusia. Kaum materialis membaca semua ini dengan materi atau kebendan
[5] Ibid, hlm 194 – 195
[6] Ibid, hlm 135
[7] Syafruddin Prawiranegara dalam Thee Kian Wie (ed ).2005.Pelaku Berkisah Ekonomi Indonesia 1950-an sampai 1990-an. Jakarta : Kompas, hlm 50
[8] Ibid, hlm 51
[9] ibid
[10] Ajip Rosidi, Op.Cit, halaman 135
[11] Ibid, hlm 139
[12] Syafruddin Prawiranegara dalam (ed ) Thee Kian Wie, op.cit, hlm 48
[13] Ibid, lihat juga dalam pemikiran Prof. Sumitro Joyohadikusumo dalam (ed ) Thee Kian Wie.2005.Pelaku Berkisah Ekonomi Indonesia 1950-an sampai 1990-an. Jakarta : Kompas, dan juga bandingkan dengan bukunya Marwati Djoenet. Sejarah Nasional Indonsia jilid VI.
[14] Aminuddin Kasdi, Memahami Sejarah, 2005, hlm. 10.
[15] Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah, 1995, hlm. 104.
[16] Aminuddin kasdi, Memahami Sejarah ( Surabaya :Unesa university press, 2005 ), halaman 10.
[17] Ibid
[18] Ibid, hal 10
[19] Ibid, hal 13
[20] Ibid, hal 26
[21] Ibid, hal 27- 28
[22] Ibid, hal 71-72
(Dikutip dan diselaraskan dari http://yudisupriadisangpengabdi.blogspot.com/2011/11/pemikiran-ekonomi-syafruddin.html)